Jaman sekarang sepertinya hampir semua orang pasti mempunyai kartu kredit di dompetnya. Mulai dari membeli kebutuhan rumah tangga, minum kopi di kafe, makan di restoran, belanja secara online, semuanya bisa menggunakan kartu kredit. Orang pasti berpikiran untuk menggunakan kartu kredit dengan pemikiran uang yang dipegang secara tunai maupun dalam rekening bank bisa digunakan untuk hal lain terlebih dahulu, apalagi kalau barang yang ingin dibeli berharga cukup tinggi dan bisa menggunakan skema cicilan.
Penggunaan kartu kredit sebenarnya baik apabila dikelola dengan benar, namun banyak orang yang menggunakan kartu kredit tanpa berpikir panjang ataupun menganggapnya sebagai uang tambahan.
Dibawah ini adalah beberapa pola pikir orang yang salah saat menggunakan kartu kredit.

1. Sebagai uang tambahan.

Ilustrasi: Confessions of a Shopaholic

Seringkali kita secara tidak sadar menggunakan kartu kredit dan beranggapan bahwa kartu kredit adalah dana tambahan. Tapi, sebetulnya penggunaan kartu kredit sama saja seperti menggunakan uang bulan depan untuk sekarang. Dan, tetap harus dibayarkan di bulan berikutnya. Penggunaannya hanya mempercepat pemenuhan kebutuhan dan tidak mengurangi beban yang harus dibayar.
Dengan pola pikir yang seperti ini kita akan menjadi lebih konsumtif. Semua yang bisa dibayarkan dengan kartu kredit akan menggunakan kartu kredit.
Karena uang di rekening kita tidak berkurang, kita akan berpikir masih ada uang untuk dipergunakan dan akan mendorong kita untuk terus belanja.

2. Tidak memperhitungkan bunga kartu kredit.

Ilustrasi: Confessions of a Shopaholic

Belakangan ini semakin banyak toko konvensional maupun online menawarkan skema cicilan 0%. Tetapi, tidak semuanya menerapkan skema tersebut. Ada yang beberapa menawarkan skema cicilan konvensional per bulan. Awalnya memang terlihat kecil, sebut saja sekitar 2%. Bagi orang yang belum begitu mengerti tentang bunga cicilan ini akan menganggap 2% adalah bunga keseluruhan dari transaksi itu. Padahal sebetulnya 2% itu adalah bunga perbulan, jadi kalau misalkan mengambil skema cicilan 2% dalam jangka waktu 12 bulan, total bunga yang dikenakan adalah 24%.
Belum lagi kalau ada keterlambatan pembayaran atau minimum payment. Dua hal tersebut juga akan menambahkan bunga dari transaksi yang sudah ada. keterlambatan pembayaran akan mnimbulkan denda yang dibebankan terhadap transaksi yang belum dibayar sepenuhnya, dan akan terus bertambah selama transaksi tersebut belum lunas.
Sedangkan minimum payment akan memberikan bunga apabila mengambil transaksi cicilan 0% dan tidak membayar skema yang ada. Yang dimaksud tidak sesuai adalah hanya membayar minimum payment dari ketentuan seharusnya. Misalkan kita mengambil cicilan dengan jangka waktu 12 bulan, dan per bulannya harus membayar Rp. 400.000. Tetapi, kita hanya membayar minimum payment nya hanya sebesar Rp. 40.000, maka transaksi tersebut akan dikenakan bunga transaksi biasa dan bukan 0%.

3. Membayar hanya minimum payment.

Ilustrasi: Confessions of a Shopaholic

Seringkali orang terbentur keperluan mendadak sehingga menunda pembayaran kartu kredit. Mereka akan membayar batas minimum payment yang biasanya hanya 10% dari total transaksi. Atau, ada juga yang menganggap dengan membatasi transaksi dan berniat melunasi semua kredit yang ada dengan membayar minimum payment tiap bulannya.
Tetapi, sebenarnya cara tersebut tidak efektif, dan malah menggulung bunga dan denda yang ada. Dengan setiap bulan kita hanya membayar minimum payment tidak akan mengurangi jumlah denda dan bunga yang dikenakan. Bunga dan denda yang dikenakan tetap berdasarkan transaksi awal, bukan berdasarkan nominal setelah dikurangi pembayaran.
Karena itu pembayaran minimum bukannya membantu tapi memperbesar pengeluaran kita dalam hitungan jangka waktu panjang.

4. Membayar tagihan kartu kredit saat jatuh tempo.

Ilustrasi: Confessions of a Shopaholic

Yang satu ini sebenarnya adalah hal yang sepele tapi tidak kalah penting. Banyak orang berpikiran kalau waktu pembayaran adalah saat jatuh  tempo. Padahal sebenarnya jatuh temppo itu adalah batas tenggat waktu kita harus membayarkan tagihan. Karena, tanggal cetak tagihan itu adalah waktu dimana kita seharusnya melakukan pembayaran untuk tagihan kita, bukan saat sudah jatuh tempo. Memang tidak akan mempengaruhi besaran yang harus dibayarkan, tapi akan lebih baik apabila dana yang akan digunakan untuk membayar sudah tersedia, langsung segera dibayarkan dan jangan menunda. Karenakalau memang dananya sudah disiapkan untuk pembayaran dan bukan untuk hal lain, tidak akan ada gunanya menunggu jatuh tempo. Malah, akan ada resiko dana tersebut terpakai untuk hal lain.

5. Tidak mempertimbangkan riwayat transaksi kartu kredit.

Ilustrasi: Confessions of a Shopaholic

Ya, ini yang jarang terpikirkan oleh kebanyakan orang, riwayat transaksi. Meskipun kita sudah melunasi semua tagihan kartu kredit kta, tapi kalau pembayaran sering telat ataupun hanya minimum payment akan mempengaruhi penilaian kredit kita.
Untuk minimum payment apabila hanya sekali atau dua kali dan seterusnya lancar tentu tidak akan berpengaruh besar. Tapi kalau sudah hampir setiap bulan, tentunya akan mengurangi penilaian. Apalagi kalau sering telat membayar, bahkan menunggak berbulan. Bisa saja akan masuk blacklist pihak OJK, dan mempersulit kita kedepannya.
Suatu saat apabila kita memerlukan dana tambahan, kredit kendaraan bermotor, kredit kepimilikan rumah, dan lain – lain. Akan, menggunakan riwayat transaksi kita untuk penilaian.
Jadi ada baiknya kita menjaga riwayat transaksi kita tetap bersih apabila memiliki rencana untuk mengambil kredit jumlah besar seperti mobil dan rumah.

Memang sih tiap orang pasti memiliki kebutuhan dan daya beli yang berbeda. Tapi hutang tetaplah hutang dan harus dibayar. Penggunaan kartu kredit harus direncanakan dengan baik, dan tidak bisa sembarangan. Karena, penggunaan yang sembarangan malah akan mempersulit kita kedepannya.
Kalau menurut kamu, apa lagi sih pola pikir buruk saat menggunakan kartu kredit?

Comments