Mulutmu harimaumu. Peribahasa yang sangat sering kita dengar disepanjang hidup kita. Mulai dari kita sekolah sampai dengan berkerja, peribahasa itu banyak sekali diangkat menjadi topik pembicaraan. Karena, kita sebagai manusia seringkali lupa diri, dan berbicara semaunya tanpa melihat keadaan dan lingkungan sekitar. Kita akan berpikir bahwa berbicara adalah kebebasan berekspresi, dan setiap orang bebas mempunyai opini serta mengutarakannya. Pernyataan teresebut benar adanya, tapi bukan berarti kita bisa berbicara seenaknya. Kita tetap harus memikirkan lingkungan sekitar dan lawan bicara kita. Terkadang dari pembicaraan kecil atau bahkan hanya sekedar diskusi tanpa fakta, apabila didengar dan disebarkan dengan cara yang salah, dapat menjadi masalah yang besar. Jadi sebelum berbicara terkadang ada baiknya kita pertimbangkan terlebih dahulu apa yang mau kita bicarakan, atau bahkan kita simpan saja dalam hati.

1. Dengan siapa kita berbicara.

Ilustrasi: Limitless

Sebelum kita mulai mengutarakan apa yang ada di kepala kita, ada baiknya lihat dulu siapa lawan bicaranya. Apakah dia bisa menerima dan sependpat dengan kita, atau orang tersebut mempunyai pemikiran yang kontradiksi dengan apa yang mau kita bicarakan. Orang terdekat yang kita rasa kita kenal saja bisa tidak terima dengan yang kita bicarakan, aplagi dengan orang – orang yang sekedar kenal dan tidak terlalu dekat. Bisa juga orang tersebut diam – diam saja saat kita berbicara, tapi apa yang kita sampaikan bisa disampaikan lagi oleh dia ke orang lain. Yang ditakuti adalah pembicaraan yang tersampaikan secara berantai ini dapat berubah ditengah jalan. Informasi yang benar saja bisa menjadi salah kalau disampaikan dengan tidak baik, apalagi kalau yang disampaikan sebenarnya hanya sekedar pemikiran ataupun diskusi ringan tidak berdasarkan fakta. Jadi pertimbangkan terlebih dahulu apa yang mau kita bicarakan sebelum kita mengutarakan pendapat kita, karena tidak semua orang sependapat dengan kita ataupun bisa mentolerir pemikiran kita.

2. Lingkungan sekitar.

Ilustrasi: Limitless

Mungkin kita berbicara hanya dengan orang tertentu, dan obrolan kita hanya untuk dengan lawan bicara kita. Tanpa kita sadari banyak juga orang yang bisa mendengar percakapan kita. Dan, tidak semua orang bisa menerima pendapat kita. Memang untuk berbicara itu adalah hak kita, apalagi kalau kita sekedar mengobrol dengan orang yang sependapat dengan kita dan hanya diskusi ringan. Tetapi kita juga harus perhatikan juga lingkungan sekitar tempat kita berbicara. Kalau ditempat yang padat ataupun kecil, apa yang kita bicarakan bisa saja terdengar oleh orang lain. Bisa saja mereka tidak memang benar berniat untuk menguping pembicaraan kita, tapi tidak sengaja terdengar. Meskipun sebagain besar dari mereka tidak akan peduli karena merasa itu bukan urusan mereka, akan ada beberapa orang mungkin yang tidak sependapat dan merasa tersinggung mendengar pembicaraan kita. Apalagi kalau yang dibicarakan adalah hal – hal yang sensitif ataupun mendiskusikan pihak tertentu. Ada baiknya untuk berbicara dan diskusi kita hindari tempat yang terlalu ramai, dan mencari tempat yang lebih tepat dan nyaman untuk mengobrol dengan bebas.

3. Jejak rekam teknologi.

Ilustrasi: Limitless

Ya, dijaman yang serba canggih sekarang ini, berbicara tidak hanya dilakukan secara tatap muka. Melalui portal web dan sosial media, orang bisa dengan bebas mengutarakan apa yang ada di kepala dia ataupun hanya sekedar iseng memberikan komentar. Melalui media – media tersebut biasanya kita akan lebih berani dan lantang untuk berpendapat dan memberikan komentar. Selain karena tidak bertatapan langsung dan merasa lebih aman, kita juga mempunyai waktu untuk berpikir apa argumen balasan kita kalau ada yang menentang ataupun mempertanyakan pernyataan kita. Tapi, nyatanya tidak begitu. Sekarang ini RUU ITE sudah semakin dimatangkan untuk melindungi masyarakat dan menindak hukum orang yang tidak bertanggung jawab saat berbicara di media online. Yang kita anggap hanya sekedar ejekan atau bercandaan bisa menjadi perkara yang besar apabila ada orang yang tidak terima. Mereka bisa melibatkan pihak hukum untuk menuntut kita. Harus kita ingat bahwa yang melihat pernyataan kita tidak hanya orang yang kita tuju saja, masyarakat umum juga dapat melihat apa yang kita post secara online. Dan, apa yang kita post secara online tidak akan hilang begitu saja, apalagi kalau ada orang yang menyimpan dan menyebarkannya. Jadi jangan merasa aman dan bebas karena kita tidak bertatap muka secara langsung. Karena kenyataannya dengan kemajuan teknologi ini, apa yang kita bicarakan malah akan lebih mudah dipergunakan orang lain untuk menyudutkan kita.

Kebebasan untuk berbicara adalah hak semua orang, dan terkadang memang diperlukan untuk berbicara secara lantang untuk membawa perubahan yang baik. Tapi, semua itu tidak tanpa resiko. Kita harus bisa mempertanggungjawabkan apa yang kita bicarakan dan menghadapi apapun yang timbul dari pernyataan kita. Selama menurut kita itu sebanding dengan resiko yang kita hadapi, silahkan berbicara. Tetapi, kalau hanya menimbulkan masalah yang tidak diinginkan, lebih baik kita pikirkan lagi apa yang mau kita utarakan.

Comments