Ketika kita berpacaran mungkin menjatuhkan pilihan cukup dengan melihat berdasarkan penampilan dan sikap saja. Asalkan kita suka dan mereka juga tertarik dengan kita, kemungkinan akan berlanjut ke hubungan asmara. Berbeda saat kita memilih pasangan hidup. Pasangan hidup akan menjadi bagian dari kehidupan kita, dan akan mendampingi kita sampai tutup usia. Susah dan senang akan dilewati bersama. Bahu membahu dalam menghadapi masalah yang ada di depan mata. Tidak hanya itu, tapi kita juga akan menjadi bagian dari sebuah keluarga besar pasangan kita. Begitu juga sebaliknya. Oleh karena itu banyak orang yang membutuhkan waktu untuk menentukan siapa yang akan menjadi pasangan hidupnya. Banyak aspek yang harus dinilai untuk meyakinkan diri kita bahwa dia lah yang paling tepat untuk menjadi pasangan hidup.

1. Sifat buruk

Ilustrasi: Blended

Sifat baik itu penting untuk menjalin hubungan yang harmonis. Tapi, sifat buruk pasangan lah yang sesungguhnya harus kita benar – benar kita ketahui. Karena kebaikan sesorang akan dengan mudah dapat kita terima, sementara ada beberapa sifat buruk yang pasti kita tidak bisa tolerir. Kita akan memilih pasangan untuk berkerja sama dan menghadapi apapun berdampingan. Pastikan bahwa kita dapat menerima sifat buruknya, karena kita akan menghabiskan hidup kita bersama pasangan hidup kita.

2. Menerima kita

Ilustrasi: Blended

Pasangan yang baik adalah pasangan yang bisa menerima kita apa adanya. Bagaimana kondisi keuangan kita, keluarga kita, sikap kita, dan berbagai macam hal lagi yang menyangkut diri kita. Kita akan menghabiskan mayoritas waktu kita bersama pasangan kita. Dan, kita akan mendedikasikan hidup kita untuk dia. Apabila pasangan kita tidak bisa menerima dan menghargai kita, akan menimbulkan efek yang buruk kepada hubungan. Apalagi kalau dia menuntut kita selalu berubah tanpa ada pertimbangan dan komunikasi yang baik.

3. Keluarga

Ilustrasi: Blended

Memilih seseorang untuk menjadi pasangan hidup dan menikah, tidak hanya sebatas kita dan pasangan kita. Setelah memasuki pernikahan, kita dan pasangan akan menjadi sebuah bagian dari dua keluarga besar. Yang berinteraksi pun bukan hanya sebatas kita dan orang tua pasangan kita ataupun sebaliknya. Tetapi, juga antar keluarga pasangan. Jadi kita harus melihat harmonisasi antara dua belah pihak keluarga. Pastikan setidaknya bisa saling menerima dan menghargai.

4. Pengaruh positif

Ilustrasi: Blended

Lihat pengaruh positif yang diberikan oleh pasangan kepada kita. Apa pengaruh dari dia yang dapat mengembangkan kita menjadi lebih baik lagi. Karena setiap pasangan akan saling mempengaruhi, dan sebaiknya pasangan itu harus bisa memberikan dampak positif agar hubungan itu pun semakin kokoh.

5. Menyelesaikan masalah

Ilustrasi: Blended

Cara pasangan berpikir dan menyelesaikan sebuah masalah sangatlah penting dalam sebuah hubungan. Setelah menikah, kita dan pasangan akan menghadapi apapun bersama –sama. Susah dan senang  akan dijalani bersama, karena itu kita harus  mengetahui bagaimana cara dia memberikan solusi untuk menyelesaikan suatu masalah. Walaupun tidak ada dua orang yang benar – benar sama, setidaknya kita dan pasangan harus bisa menyatukan suara dan menjadi rekan saat mengatasi masalah yang akan datang. Karena hidup itu akan dipenuhi masalah dan semakin menantang kedepannya.

6. Pergaulan

Ilustrasi: Blended

Bagaimana dia bergaul dan berinteraksi dengan lingkungannya juga harus menjadi pertimbangan. Karena kita harus menerima dia apa adanya, dan tidak bisa meminta dia untuk benar – benar berubah sesuai keinginan kita. Kalau memang tidak cocok dengan gaya dia bergaul dan berinteraksi, coba untuk komunikasikan. Apabila memang dia tidak bisa benar – benar merubah lebih baik pikirkan kembali semuanya. Kalau kita tidak bisa menerima dirinya yang seperti itu dan terus menerus menekan untuk berubah, akan timbul resiko dia akan membohongi kita demi pergaulannya. Maka timbul lah permasalahan kecil yang dapat merusak segalanya.

7. Pola pikir

Ilustrasi: Blended

Bagaimana pasangan melihat hidup dan berpikir akan sangat penting dalam perkembangan diri dan hubungan kita. Karena bisa saja pasangan kita akan membantu kita untuk bangkit atau bahkan memberi masukan yang berarti disaat kita terpuruk. Bisa saja saat ini kita sedang dalam keadaan ekonomi yang kurang baik. Tapi dia tahu bahwa ini semua hanyalah sebuah fase dan akan dilewati. Bukannya meninggalkan dia justru menyemangati dan membantu kita untuk bangkit lagi. Dengan pola pikir seperti itulah sebuah hubungan akan menjadi lebih kokoh.

8. Komitmen

Ilustrasi: Blended

Ini adalah yang menjadi sebuah dasar pernikahan, komitmen. Tanpa sebuah komitmen, pernikahan tidak akan bertahan. Bahkan, dari awal bisa saja tidak terwujudkan. Hanya kita saja yang berkomitmen teguh tidaklah cukup. Komitmen harus datang dari dua belah pihak. Kita dan pasangan harus benar – benar yakin bahwa inilah pasangan hidup yang diinginkan. Sebuah rumah tangga tidak cukup hanya mengandalkan perasaan cinta saja. Semuanya harus dipersiapkan dengan matang dan banyak menggunakan logika.
Tanpa adanya komitmen, rumah tangga akan semakin ringkih. Karena, hanya mengikuti kemauan masing – masing.


Memang sih terkadang untuk memilih pasangan hidup kita harus mengikuti kata hati kita. Tetapi tidak ada salahnya menambahkan pertimbangan secara logika.  Karena ini adalah pasangan seumur hidup. Kita tidak bisa sembarangan memilih orang untuk menjadi pendamping hidup kita. Apalagi hanya asal yang penting menikah. Kita harus benar – benar memilih dan mempertimbangkan siapa yang akan menjadi pasangan hidup kita.

Comments